Senin, 15 Oktober 2012

KISAH TRAGIS SANG KAISAR TERAKHIR CHINA (PUYI)




Hidup indah berujung musibah. Separuh usianya, pewaris terakhir dari Dinasti Qing, Kaisar Pu Yi, hidup di dalam sangkar emas. Baginya, peribahasa itu bukan istilah dari langit. Di usia teramat belia, dua tahun, ia sudah dinobatkan menjadi Kaisar, menggantikan pendahulunya yang baru saja mangkat (Kaisar Kuang Hsu). Singgasana berada dalam genggaman, hidup berjalan begitu agung, di berbagai Istana di dalam areal Kota Terlarang.



Berbagai kemewahan duniawi dan hak-hak istimewa melekat otomatis. Tetapi, sesungguhnya semua itu hanya sebuah paradoks. Ia memang berkuasa untuk menentukan segala hal —-termasuk memukuli para kasim atau budak pelayan tanpa alasan apapun. Tetapi, bahkan untuk ke luar istana saja, ia harus mendapat izin dan pengawalan. Sebagai Kaisar, ucapannya adalah titah, dan semua orang harus menurut. Namun, di saat bersamaan, ia pun terbelenggu oleh para pengkhianat, penjilat, serta orang-orang yang mengincar kejatuhannya. Mereka bisa memelintir informasi menyesatkan, melakukan korupsi besar-besaran, dan melancarkan pemberontakan diam-diam guna melucuti takhta agung di Kekaisaran Manchuoko (Manchuria).


Cover Buku The Last Emperor





Drama berawal di 13 November 1908 (malam). Aisin Gioro Pu Yi atau Henry Pu Yi, yang saat itu masih “bayi merah”, naik ke singgasana kekuasaan. Upacara megah dilangsungkan di Aula Kedamaian Abadi di Kota Terlarang (kini Beijing, di belakang Lapangan Tiananmen). Di saat yang sama, negeri China bergemuruh. Perubahan besar sedang terjadi, dari zaman ortodoks-tradisional menuju era moderen. Berbagai kekuatan politik, terutama yang dihela oleh kalangan nasionalis pimpinan Sun Yat Sen dan dilanjutkan Chiang Kai Sek melakukan upaya pemberontakan. Tarik menarik pengaruh berlangsung ketat. Tak lama setelah Pu Yi menduduki kursi kekaisaran, ia harus turun segera. Tentara Kuomintang berhasil mendesakkan perubahan pemerintahan, dari Monarki menjadi Republik.


Persis tiga tahun saja, Pu Yi berkuasa sebagai Kaisar absolut. Selanjutnya, ia menjadi Kaisar Boneka, berkuasa tetapi tanpa takhta. Nasibnya diselamatakan oleh “Perjanjian Perlakuan Baik” terhadap Kaisar. Pemerintah Republik sepakat untuk memberikan konsesi dan subsidi terhadap Istana Kaisar. Meski demikian, tetap saja Pu Yi menikmati kehidupan serba luar biasa. Sang Kaisar muda itu benar-benar hidup dalam dunia nirwana, di Istana Kota Terlarang.




Kaisar Xuantong - Puyi



Sehari-hari, hanya keberlimpahan yang tersaji. Untuk makan, ia punya istilah sendiri: “memilih makanan”. Maksudnya, semua kasim di bagian rumah tangga, harus mampu menghadirkan 35 menu rutin di meja makan. Padahal, hanya satu dua menu saja yang sanggup ia santap —-bahkan ada menu makanan yang sepanjang hidupnya tak pernah ia sentuh.


Semua orang harus takjim, melakukan kowtow (membungkkuk dihadapannya). Ke manapun ia pergi, maka iring-iringan budak dan prajurit selalu siap membuntuti. Demi menggambarkan suasana ini, Sang Kaisar mengaku tertawa ketika orang barat menganggap cerita dalam buku The Dream of The Red Chamber sebagai dongeng, karena menyebut seorang nenek yang selalu dikuntit oleh serombongan pengawal. Pasalnya: ia sendiri memiliki tak kurang dari 300 orang kasim yang siap menemaninya ke manapun pergi. Setidaknya, sepuluh mobil disiapkan untuk menemani Kaisar beserta rombongannya, jika ingin ke luar dari istana.


Berapa biayanya? Sang kaisar pernah menghitung, pengeluaran untuk menopang kehidupan sangkar emasnya itu, untuk jangka waktu tiga tahun, menyedot dana melebihi 2.790.000 ons emas.


Tak ada yang tak masuk akal. Tak ada juga pihak yang protes. Bagi masyarakat China waktu itu, Kaisar adalah Dewa Langit. Lagipula, warisan kekayaan dari leluhur sungguh-sungguh tak terhitung.


Dinasti Qing telah berkuasa 700-an tahun, belum lagi dari Dinasti sebelumnya, yaitu Dinasti Ming. Di saat berusia 16 tahun, sang kaisar muda pernah membuka peti kekayaan di dalam kompleks Istana di Kota Terlarang. Lalu ditemukanlah ratusan peti harta karun. Berisi ribuan kaligrafi, lukisan, perkamen, dan barang antik lainnya. Di gudang lain, bertumpuk peti harta karun yang berisi emas, permata, barang dari permata jade, porselin, dan gading ukiran. Harta berlimpah itu, hanya lah sisa yang terlihat. Belum lagi yang lain. Misalnya yang terungkap ketika terjadi kebakaran hebat di Istana Kebahagiaan, yang “menghilangkan” setidaknya 2.665 patung Budha emas, 1.157 perkamen, 453 cendera mata, dan ribuan buku kuno.


Namanya istana, pasti tak sepi intrik, persekongkolan, dan ancaman pembunuhan. Sang Kaisar memang memiliki pelindung, tetapi mereka berebut pengaruh dan kesempatan, terutama dengan memanfaatkan berbagai kedekatan dengan keluarga Kaisar. Orang-orang terdekat Kaisar, seperti Ibu Suri dan para Selir Agung, para tutor (guru pengajar), serta para pejabat penting di istana, semua memasang perangkap. Nuansa hidup seperti inilah yang membentuk jati diri Sang Kaisar. Ia, menjadi individu pemberang, pencuriga, senang menyiksa bawahan, dan terperangkap oleh “api dendam”.


Kobar kebencian meledak-ledak. Dari luar, ia terancam oleh penjatuhan dan kekuatan militer oleh Jepang, Rusia, maupun Rezim Republik Kuomintang (dan termasuk juga Tentara Merah Komunis, yang dipimpin Mao Tse Tung). Dari dalam, terintimidasi oleh perilaku korup dan persekongkolan para bawahan. Di suatu waktu, Sang Kaisar pernah menulis bahwa satu-satunya yang ia sesali adalah mengapa dirinya harus menjadi kaisar.


Riwayat berikut bergerak pasang surut. Kekuasaannya sebagai Kaisar kembali dilucuti oleh kaum Republik, dan ia terusir dari Istana di Kota Terlarang, sehingga harus pergi ke Manchuria (sebelumnya singgah di Tienstien). Tekadnya kembali menggelegak, untuk melakukan restorasi (menghidupkan kembali monarki, alias rezim ke-Kaisaran). Termasuk dengan cara-cara culas dan penuh resiko, yaitu bekerjasama dengan Balatentara Jepang. Di titik inilah, malapetaka bermunculan. Termasuk praktek perbudakan, perampasan harta pribumi, dan “wajib militer” yang diterapkan Jepang terhadap penduduk Manchuria. Di kemudian hari, fakta-fakta inilah yang dijadikan alat untuk menyebut Sang Kaisar sebagai penjahat perang.


Oleh Jepang, Sang Kaisar memang tetap dilayani dengan kualitas luar biasa —-karena Jepang juga memiliki tradisi dalam menghormati Kaisar mereka. Ketika berkunjung ke Jepang, Kaisar Pu Yi disambut meriah, dijemput langsung oleh Kaisar Hirohito, dan menjadi tamu kesayangan dari Ibu Agung. Namun sejatinya semua itu perangkap. Ia tak memiliki kekuasan penuh, melainkan hanya simbol. Setiap gerak-geriknya diawasi. Nyawanya bahkan berada dalam genggaman tangan tentara Jepang. Lantas keadaan semakin terpuruk, persis ketika Jepang kalah perang, digempur habis oleh sekutu.


Bila sebelumnya pasang surut, menjadi Kaisar, didongkel, lalu menjadi Kaisar lagi, maka setelah Jepang pergi, maka Kaisar Pu Yi benar-benar menjadi pesakitan. Statusnya dilucuti sebagai orang biasa, dan menjadi “tawanan” serta diasingkan di Rusia —-selama tujuh tahun.


Kisah kemudian menjadi titik balik. Oleh Rusia, ia diserahkan ke rezim Komunis pimpinan Mao. Masuk dalam penjara, dan wajib mengikuti belajar “menjadi komunis”. Komunis memberlakukan metode cuci otak, untuk mereformasi pikiran orang-orang feodal menjadi komunis sejati. Di sinilah ia kehilangan segalanya. Anak buah, keluarga, dan para pelayannya berbalik menjadi musuh. Di dalam penjara, ia menjadi objek hinaan dan pelecehan.


Betapa miris. Seorang Kaisar yang terbiasa dilayani, tiba-tiba harus mencuci baju sendiri. Mengambil makanan sendiri. Dan untuk semua itu, ia hanya menjadi objek tertawaan dan olok-olok. Semuanya bersumber dari satu hal: ia memang tak bisa mencuci… Begitulah. Hidup indah Sang Kaisar, berujung menjadi musibah.Semoga menambah wawasan kita semua





Info Detil Buku:
Judul: The Last Emperor, Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis: Henry Pu Yi (direvisi oleh Paul Kramer)
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, Jakarta, 2010
Tebal: 343 halaman (+ foto)
 ip, Networking, Fun

Forbidden City dan Kisah Sang Kaisar Terakhir Pu Yi



Begitu memasuki pintu gerbang 'Forbidden City', di pusat kota Beijing, China, para turis boleh jadi langsung teringat film 'The Last Emperor'. Maklum saja, salah satu film yang sukses meraih sejumlah penghargaan Oscar itu mengambil latar kota bekas tempat tinggal kaisar China itu.

Benak saya langsung teringat kisah sang Kaisar Terakhir Pu Yi yang masih kanak-kanak. Saya bisa membayangkan bagaimana seorang anak yang masih sangat kecil harus mengalami berbagai intrik politik di sekitarnya.

"Kaisar Pu Yi masih sangat kecil saat dinobatkan sebagai kaisar,"

Seperti layaknya raja, Pu Yi yang lahir pada tahun 1906 diperlakukan sangat-sangat luar biasa. Ayah Pu Yi adalah Pangeran Chun yang merupakan adik Kaisar Kuang. Semua orang yang ada di sekelilingnya berlaku sangat ingin menyenangkan sang kaisar. Tak heran jika Pu Yi tumbuh menjadi remaja yang manja dan mau enaknya sendiri.

Kaisar Pu Yi
(7 Februari 1906 - 17 Oktober 1967)

The Last Emperor

Kaisar Pu YiKaisar Pu Yi menikah dengan Permaisuri Gobula Wan Rong atas saran dari Imperial Dowager Concubine Duan-Kang. Kemudian, antara tahun 1934 dan 1945, dia menjadi Kangde Emperor dari Manchukuo (sekarang China). Pu Yi terkenal luas sebagai 'the last emperor'.

Nama klan-nya yaitu Aisin-Gioro jarang digunakan. Dia sering menggunakan nama Inggrisnya yaitu "Henry", nama yang dipilihkan oleh guru bahasa Inggris-nya, Scotsman Reginald Johnston. Walaupun nama Henry sering digunakan Pu Yi dalam berkomunikasi dengan bangsa barat antara tahun 1920 dan 1932, namun jarang disebut atau tidak pernah diketahui oleh publik di China sendiri.

Pu Yi, Kaisar China terakhir tidak pernah hidup seperti rakyat biasa, walaupun setelah digulingkan dari kekaisarannya. Dia tetap tinggal di Forbidden City sampai tahun 1924 ketika panglima perang Feng Yuxiang melakukan kudeta yang memaksa Pu Yi untuk tinggal di mansion ayahnya beserta permaisuri, selir dan para pengurus Istana-nya.

Ketika Pu Yi berumur 16, diputuskan oleh kerajaan untuk saatnya menikah. Penasehatnya menunjukan beberapa foto para gadis untuk dipilih oleh Pu Yi. Dia memilih seorang gadis berumur 13 tahun bernama Wen Hsiu, namun penasehatnya berpendapat Wen Hsiu tidak terlalu cantik untuk menjadi permaisuri atau Ratu. Mereka memilihkan Pu Yi seorang gadis lain yang lebih cantik dari keluarga kaya bernama Wan Jung atau Elizabeth. Dan karena Pu Yi juga menyukai Wen Hsiu, Wen Hsiu menjadi selir Pu Yi.

Sebelum Pu Yi dan pengikutnya di usir keluar dari Forbidden City, para Manchurian berharap bangsa barat dapat menolong mereka untuk menyelamatkan kerajaan. Mereka berpikir dengan menjalin hubungan dengan bangsa barat dapat memulihkan kekuasaan kerajaan. Oleh karenanya Pu Yi harus belajar bahasa Inggris.

Di umur 13 tahun, Pu Yi mulai belajar bahasa Inggris, gurunya bernama Reginald Jonhston, pejabat senior di kantor kolonial British. Johnston bukan sekedar guru bagi Pu Yi, Johnston banyak memberikan pengaruh pada Pu Yi. Di bawah didikannya, Pu Yi menjadi senang dengan segala sesatu dari barat. Pu Yi meminta Johsnton memilihkan nama barat untuknya. Dari seluruh nama raja-raja Inggris yang diberikan Johnston, Pu Yi memilih nama "Henry".

Johnston jugalah orang pertama yang merasa Pu Yi harus menggunakan kaca mata. Namun para penasehat Pu Yi berpikir kaca mata terlalu kebarat-baratan untuk Pu Yi. Kaca mata inilah yang akhirnya menjadi ciri khas Pu Yi sampai akhir hidupnya.

Kerajaan Manchukuo (China)

Tentara Jepang meng-invansi Manchuria pada tahun 1931. Tahun berikutnya, mereka menawarkan Pu Yi untuk masuk ke area Manchuria. Pu Yi sedari awal sudah ditawarkan perlindungan dari Jepang, Pu Yi tinggal di kedutaan Jepang di Peking dan kemudian sempat tinggal di Tientsin daerah pesisir China.
Pu Yi kemudian menjadi rejen dari negara independen Manchukuo di tahun 1932. Dua tahun kemudian, dia akan diangkat menjadi kaisar. Pada kenyataannya, dia hanyalah kaisar boneka Jepang, segala sesuatu harus diputuskan oleh Jepang, termasuk kehidupan pribadinya.

Jepang menekan Pu Yi untuk menikahi wanita Jepang, namun ia malah menikah dengan wanita Manchu Yu-ling. Enam tahun setelah pernikahan, Yu-ling meninggal setelah seorang dokter Jepang memberinya obat ketika ia sakit. Pu Yi diminta kembali oleh Jepang untuk menikah. Pu Yi kemudian menikahi wanita Manchuria bernama Li Yuqin yang sedang belajar di sekolah Jepang.

Manchuria menjadi tempat latihan militer Jepang pada perang dunia kedua. Pada akhir masa perang, tentara Soviet meng-invasi Manchuria, Pu Yi dan pengikut istana nya terpaksa harus mengungsi lagi.

Soviet berkata akan memindahkan Pu Yi dan delapan pengikutnya untuk pindah ke Jepang. Pu Yi tidak memilih satu pun dari istrinya untuk ikut bersamanya, dia bahkan memilih pergi bersama saudara laki-lakinya, 3 keponakan, dua kakak ipar laki-laki, seorang dokter dan seorang pelayan.

Alih-alih membawa Pu Yi ke Jepang, Soviet malah mebawa Pu Yi ke USSR dan dimasukan ke rumah tahanan. Pada tahun 1946, Pu Yi disuruh bersaksi atas aksi kekejaman militer Jepang di Manchukuo. Pu Yi berkata bahwa ia hanyalah kaisar boneka Jepang.

Re-edukasi dan reformasi

Tidak sampai tahun 1950 akhrinya Pu Yi kembali ke China. Segera setelah ia kembali, dia dikirim ke kamp pejara untuk untuk re-edukasi. Sebagai tanda keseriusannya untuk re-edukasi, Pu Yi merelakan 'imperial seal' yang sangat berharga miliknya dan selalu dibawa kemanapun ia pergi.

Dia tinggal di kamp selama 9 tahun, hanya dibebaskan pada tahun 1959, setelah mendapatkan pengampunan dari Mao Zedong. Setelah masuk umur 50 tahun-an Pu Yi tinggal di rumah ayahnya. Dia diperintahkan untuk bekerja sebagai tukang kebun di Akademi Institut Ilmu Botani.

Pada tahun 1962 dia menikahi Li Shuxian, seorang suster dari rumah sakit kecil di Beijing. Dia menjadi member Chinese People's Political Consultative Conference (CPPCC) dari tahun 1964 sampai akhir hidupnya tahun 1967. Transformasi dari seorang raja sampai menjadi penduduk sipil biasa telah selesai.


Kekuasaan Pu Yi sebagai Kaisar Dinasti Qing digulingkan oleh pemerintah republik. Memang saat Pu Yi berkuasa, China sedang bergerak dari bentuk monarki ke republik.

"Saat suhu politik semakin memanas, Kaisar Pu Yi terpaksa harus keluar dari Istananya yang luar biasa megah untuk mencari perlindungan. Saat di pengungsian inilah, Pu Yi semakin sadar mengenai politik yang ternyata luar biasa kejam,"

Semakin lama, nasib Fu Yi dan keluarganya semakin tidak pasti. Beberapa kali, keluarga kerajaan terancam terkena hukuman mati. Namun beruntung, sanak saudara dan pengikut Pu Yi masih setia dan melayani Sang Kaisar.

Namun situasi berubah drastis. Keluarga Pu Yi ditahan dan diperlakukan sama dengan semua tahanan Soviet. Pu Yi yang terbiasa hidup penuh pelayanan harus hidup mandiri dan melakukan semua hal sendiri. Tentu saja itu bukan hal mudah untuk seorang Pu Yi.

Namun Pu Yi justru bisa belajar banyak hal saat berada di dalam tahanan ini. Sang Kaisar bisa mengetahui mana kawan dan lawan sejati. Pu Yi juga bisa mengejar berbagai ketertinggalan akibat 'hidup penuh dilayani' selama ini.

"Pu Yi berada di tahanan sampai dia menerima rehabilitasi pada tahun 1959 dan diberikan hak sebagai warga sipil pada 20 November 1960 dan menjalani kehidupan sebagai rakyat biasa," kata Rose.

Pu Yi meninggal dunia pada 17 Oktober 1967 . Namun apa yang menyebabkan Sang Kaisar Terakhir itu meninggal tidak pernah diumumkan.

Hingga kini keluarga kerajaan yang keluar dari 'Forbidden City' tidak pernah diketahui rimbanya. Termasuk saudara laki-laki Pu Yi. Pu Yi tidak memiliki anak baik dari istri permaisuri maupun selirnya.

Sisa-sisa kejayaan kekaisaran China masih sangat terasa di bangunan yang menempati luas tanah sekitar 72 hektar ini. Wisatawan dijamin pegal-pegal setelah menyusuri bangunan seluas 150 ribu meter persegi itu.

Bagaimana tidak, di dalam kompleks yang dulunya pernah ditinggali oleh 24 kaisar dan keluarga dari Dinasti Ming dan Dinasti Qing itu terdapat 90 istana dan halaman. Belum lagi 980 gedung dan 8.704 kamar. Wow!





Pada tahun 1961, Forbidden City terdaftar sebagai salah satu monumen bersejarah penting di bawah pelestarian khusus oleh pemerintah pusat Cina dan, pada tahun 1987, ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.
Museum Istana adalah rumah harta peninggalan budaya dan sejarah Cina.Hal ini diakui sebagai salah satu dari lima istana yang paling penting di dunia (empat lainnya adalah Istana Versailles di Perancis, Istana Buckingham di Inggris, Gedung Putih di Amerika Serikat dan Kremlin di Rusia).
Forbidden City, terletak di jantung kota Beijing, merupakan rumah bagi 24 kaisar dari Dinasti Ming (1368-1644) sampai Dinasti Qing (1644-1911) . Pembangunan istana besar dimulai pada tahun keempat Kaisar Yongle dari Dinasti Ming (1406), dan berakhir pada 1420. Pada zaman kuno, kaisar diklaim sebagai putra Langit, dan karena itu Surga tertinggi kekuasaan pun diberikan kepadanya. Tempat tinggal kaisar dibangun sebagaimana dianggap seperti tinggal di surga. Dan jelas sekali tempat tinggal itu dilarang untuk orang-orang biasa dan itulah sebabnya diberi nama Forbidden City.
Forbidden City meliputi area seluas sekitar 72 hektar (178 hektar) dengan total luas lantai sekitar 150.000 meter persegi (1.600.000 kaki persegi). Terdiri dari 90 istana dan halaman, 980 bangunan dan 8.704 kamar. Untuk mewakili kekuasaan tertinggi kaisar maka tempat kaisar tinggal menjadi pusat dunia, semua gerbang, istana dan struktur lain dari Forbidden City diatur mengikuti sumbu utara-selatan pusat Beijing.Untuk keamanannya, Forbidden City dilindungi oleh 10 meter tembok kokoh, yang memiliki keliling 3, 430 meter. Pada setiap sudut Forbidden City, ada sebuah menara pengawas berdiri megah, yang dijaga ketat setiap saat. Sekitar kota ada parit sebagai garis pertahanan pertama.


Kebanyakan para turis memasuki Forbidden City melalui Tian'anmen, Gerbang Kedamaian Surgawi. Melalui gerbang, di sebuah persegi bata-diaspal luas, para pelancong akan mencapai pintu masuk utama ke istana, Meridian Gate (Wumen dalam bahasa Cina). Gerbang Meridian adalah tempat di mana Kaisar mengumumkan kalender lunar baru pada musim dingin solstice. Masuk melalui Gerbang Meridian, dan pergi melintasi Jembatan Emas Streaming, maka pengunjung akan tiba di pelataran luar.

Pelataran luar terdiri dari tiga bangunan utama, Aula Agung Harmony (Taihedian), Aula Tengah Harmony (Zhonghedian) dan Aula Melestarikan Harmony (Baohedian). Ini aula di mana kaisar menghadiri upacara agung dan melakukan urusan negara. Ruang pertama yang menunggu dikunjungi adalah Aula Keselarasan Tertinggi, struktur yang paling penting dan terbesar di Forbidden City. Aula Agung Harmony Hall Tengah Harmony (Zhonghedian), tempat peristirahatan kaisar sebelum memimpin acara besar yang diadakan di Aula Agung Harmony. Kaisar akan berlatih pidato dan presentasi di sini sebelum berangkat ke Kuil Surga untuk ritual pengorbanan. Ruang terakhir adalah Aula Harmony Melestarikan digunakan untuk perjamuan dan kemudian untuk ujian kekaisaran.Ada beberapa sisi kebun dengan ruang menarik untuk dijelajahi.
Keluar dari Aula Harmony Melestarikan, akan terlihat sebuah blok besar marmer yang diukir dengan awan dan desain naga.
Selanjutnya : Pengadilan batin adalah terdiri dari tiga struktur utama di belakang Forbidden City, yaitu Istana Kedamaian Surgawi (Qianqinggong), Istana Persatuan dan Perdamaian (Jiaotaidian) dan Istana Tranquility Terestrial (Kunninggong). Selain tiga bangunan utama ada enam istana timur dan enam istana barat, di mana kaisar digunakan untuk menangani urusan sehari-hari, dan yang merupakan tempat tinggal kaisar, permaisuri, para selir, dan keluarga kekaisaran lainnya. Istana yang telah diubah menjadi ruang pameran, di mana satu set koleksi spektakuler dari kekaisaran ditampilkan.Struktur pertama dalam pelataran dalam adalah Istana Kedamaian Surgawi, tempat kaisar 'tidur. Di balik itu adalah Istana Persatuan dan Perdamaian, di mana segel kekaisaran disimpan. Ruang ketiga adalah Aula Tranquility Terestrial, ruangan pernikahan kaisar '. Keluar dan pergi lebih jauh ke utara, wisatawan akan menemukan Taman Kekaisaran. Taman ini menawarkan perubahan estetika dari kompleks bangunan merah dan abu-abu untuk warna-warni dan suasana mewah. Di sisi kiri pelataran dalam, wisatawan akan menemukan Budidaya Aula Mental (Yangxindian), bangunan paling penting kecuali Aula Agung Harmony. Istana-istana di sisi timur dan barat, tempat tinggal mantan selir telah diubah menjadi ruang pameran.





Mau tahu tarif masuk ke Forbidden City ?
Biaya :
CNY 40 (1 November - 31 Maret)
CNY 60 (1 April - 31 Oktober)
Jam Buka:
8:30-16:20 (16 Oktober - 15 April.)
8:30-17:00 (16 April - 15 Oktober)
Rekomendasi Waktu untuk Kunjungan: 3-4 jam




Tidak ada komentar:

Posting Komentar